Love Letters
Rintik hujan menjatuhi atap rumah. Percikan demi percikan terasa membasahi jiwa. Aku terkenang akan sesuatu. Kuraih buku diary yang menemani masa mudaku dulu. Senyumku mengembang. Aku rindu pelukannya, canda tawanya, senyumnya. Ketika aku bersamanya, dunia terasa sangat indah. Sangat indah.
Aku terkenang akan tiga belas tahun silam. Ketika aku berumur delapan belas tahun. Aku lulusan SMK dengan jurusan penyiaran. Lalu melamar kerja di sebuah perusahaan penyiar ternama seIndonesia. Aku sangat mencintai pekerjaanku. Pekerjaan yang membuatku bertahan hidup selama ini.
Waktu itu, hujan mengguyur kota Jakarta. Cuaca gelap membuatku teringat dengan kota kelahiranku, padang. Kulihat gedung gedung bertingkat di sekelilingku. Lalu tersenyum nanar sembari mengeluhkan peluhku. Segera kutinggalkan tempat perjuanganku menuju taksi. Sesampainya di rumah, bajuku basah kuyup. Lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan segera menarik selimut. Aku terbuai akan mimpi yang sangat indah. Namun, suara ketukan pintu membuatku terbangun dari mimpi. “Siapa yang ngetuk ngetuk pintu sih, hujan hujan begini.” Gerutuku seraya menuju pintu. Kulihat, tak ada orang di luar. Membuatku takut. “Hallo, ada orang disini?” tanyaku penuh hati hati. “Hallo, ada orang gak disini? Hallo?” ulangku. Pekikanku terbuang sia sia. “Iseng sekali orang ini” batinku. Lalu kututup pintu. Tak berapa lama kemudian, terdengar lagi suara ketukan pintu. “Ishhh siapa sih, ganggu aja!!” pekikku. Dengan kesal, aku membuka pintu. “Hallo?!!! Siapa sih yang ketuk pintu! Iseng banget!” geramku.
Kulihat sekeliling, tak ada siapa pun. Namun, pandanganku teralihkan ke sepucuk surat terletak di bawah keset. Hatiku bertanya tanya, surat apa itu. aku semakin ketakutan. Dengan penuh waspada kulihat sekeliling lalu segera menutup pintu dan menguncinya. Aku pun langsung berlari ke kamar. “Astaga, surat apa ini? Jangan jangan ada orang yang mau jahat sama aku” pikirku takut. Cepat cepat aku buka isi surat tersebut, karena aku sangat penasaran.
Kulihat sekeliling, tak ada siapa pun. Namun, pandanganku teralihkan ke sepucuk surat terletak di bawah keset. Hatiku bertanya tanya, surat apa itu. aku semakin ketakutan. Dengan penuh waspada kulihat sekeliling lalu segera menutup pintu dan menguncinya. Aku pun langsung berlari ke kamar. “Astaga, surat apa ini? Jangan jangan ada orang yang mau jahat sama aku” pikirku takut. Cepat cepat aku buka isi surat tersebut, karena aku sangat penasaran.
13 februari 2014
Salam manis,
Hai, Grace. Pasti kamu kaget, penasaran dan mungkin takut dengan surat ini. Tapi, tak perlu takut. Aku tidak berniat jahat sama kamu kok. Harusnya aku yang takut. Karena, aku takut kehilangan kamu. Mungkin caraku memang kuno dengan mengirim surat seperti ini. Gak banyak yang ingin aku bilang, aku Cuma ingin bilang kalau selama ini aku sangat mengagumi kamu. Aku sayang sama kamu. Dan lama lama aku takut kehilangan kamu. Setelah sekian lama aku mulai menyadari tentang perasaanku ini padamu ternyata aku, cinta sama kamu. Grace, aku berharap kamu membalas cintaku. Tentunya, kau mengenalku. Jika kamu ingin tau siapa aku, kamu datang ya besok ke Jln. Emanuel dekat taman kota. Aku berharap sangat kamu bisa datang menemuiku besok jam 5 sore.
Salam manis,
Hai, Grace. Pasti kamu kaget, penasaran dan mungkin takut dengan surat ini. Tapi, tak perlu takut. Aku tidak berniat jahat sama kamu kok. Harusnya aku yang takut. Karena, aku takut kehilangan kamu. Mungkin caraku memang kuno dengan mengirim surat seperti ini. Gak banyak yang ingin aku bilang, aku Cuma ingin bilang kalau selama ini aku sangat mengagumi kamu. Aku sayang sama kamu. Dan lama lama aku takut kehilangan kamu. Setelah sekian lama aku mulai menyadari tentang perasaanku ini padamu ternyata aku, cinta sama kamu. Grace, aku berharap kamu membalas cintaku. Tentunya, kau mengenalku. Jika kamu ingin tau siapa aku, kamu datang ya besok ke Jln. Emanuel dekat taman kota. Aku berharap sangat kamu bisa datang menemuiku besok jam 5 sore.
Pengagum Rahasiamu
FSL
FSL
Entah apa yang aku rasakan saat ini. Bahagia? Ya. Penasaran? Ya. Takut? Ya. Semuanya aku rasakan. Pertanyaan terus berkecamuk di otakku. Kupandang langit melalui jendela kamar. Terlihat sangat gelap. Namun, beda denganku saat ini. Aku sangat pusing memikirkan surat ini. Aku pun mulai lelah memikirkannya. Kuletakan surat di laci dan kembali tidur. Selimut ini sangat menghangatkanku. Hingga aku lupa semuanya.
Suara ayam membangunkan tidurku. Ternyata sudah pagi. “Astaga, aku terlambat. Udah jam berapa ini?” gerusuh ku. Lalu kulihat jam dinding. Menunjukan pukul 7 pagi. “Untunglah, tenyata belum terlambat.” Syukurku. Kubuka jendela kamar, lalu kuhirup udara pagi hari ini. Berbagai aktivitas telah dilakukan orang orang. Kulihat tukang koran sudah berkeliling sepeda sembari melempar surat kabar terbaru pagi ini ke seluruh rumah di kompleks ku. Ada ibu ibu berbaju kuning sedang menyapu jalanan. Dan berbagai kegiatan lainnya. Segera mandi dan bersiap siap untuk bekerja.
“Semuanya sudah beres. Sekarang tinggal berangkat.” Ucapku semangat. Aku melupakan sesuatu, ya surat itu. aku berlari menuju kamar mengambil surat itu. lalu memasukannya ke dalam tas. Dengan langkah cepat, aku menuju pintu.
Sesampainya disana,
Aku sangat terkejut ketika melihat sebucket mawar putih dengan sepucuk surat di atasnya. Kulihat sekeliling, lagi lagi tak ada orang. Tak ada jejak yang kucurigai sedikitpun. Segera kubaca surat tersebut.
Aku sangat terkejut ketika melihat sebucket mawar putih dengan sepucuk surat di atasnya. Kulihat sekeliling, lagi lagi tak ada orang. Tak ada jejak yang kucurigai sedikitpun. Segera kubaca surat tersebut.
14 februari 2014
Salam sayang,
Bunga mawar segar di pagi hari bertepatan dengan hari Valentine cocok sekali untukmu. Kamu terlihat begitu cantik hari ini. Kau tau? Mengapa aku tak memberimu mawar merah. Karena mawar putih melambangkan cintaku yang tulus dan menyejukan jiwa siapapun yang merasakannya. Sedangkan mawar merah melambangkan api cinta yang menggebu gebu. Itulah sebabnya mengapa aku memberimu mawar putih. Aku tidak tau kamu suka yang mana. Tapi yang jelas aku suka yang itu. kuharap kamu datang ke tempat yang aku janjikan. LOVE YOU!!!
Pengagum Rahasiamu
FSL
Salam sayang,
Bunga mawar segar di pagi hari bertepatan dengan hari Valentine cocok sekali untukmu. Kamu terlihat begitu cantik hari ini. Kau tau? Mengapa aku tak memberimu mawar merah. Karena mawar putih melambangkan cintaku yang tulus dan menyejukan jiwa siapapun yang merasakannya. Sedangkan mawar merah melambangkan api cinta yang menggebu gebu. Itulah sebabnya mengapa aku memberimu mawar putih. Aku tidak tau kamu suka yang mana. Tapi yang jelas aku suka yang itu. kuharap kamu datang ke tempat yang aku janjikan. LOVE YOU!!!
Pengagum Rahasiamu
FSL
Tak terasa senyum di bibirku mengembang, rasanya aku tau siapa yang mengirimkan ini. Sungguh aku tak menyangka jika dia akan melakukan ini padaku. Baru kali ini selama delapan belas tahun, ada yang memperlakukanku semanis dan seromatis ini. Aku sangat terharu. Tak terasa buliran air mata membasahi pipiku. Aku terbius akan ini. Kulihat jam di tangan menunjukan pukul 8 pagi. “Astaga, kali ini aku benar benar terlambat.” Kejutku. Cepat cepat aku meletakan mawar dan surat tadi ke dalam tas. Segera kucari taksi yang lewat. Sesampainya di tempat kerja, aku mendapat teguran dari bosku.
“Hei Grace, mengapa kamu baru datang sekarang? Kamu terlambat!” bentaknya
“Iya Pak, maaf. Saya tadi ada urusan sebentar. Makannya saya terlambat.” Ucapku sembari menundukan kepala
“Maaf maaf!! Gak ada maaf maafan. Memangnya lebaran apa!”
“Saya janji Pak, saya gak akan ngulanginnya lagi.”
“Ya sudah kali ini saya maafkan. Tapi kalau kamu mengulanginya lagi. Saya tidak akan segan segan memecat kamu! Mengerti?!”
“Sangat mengerti Pak”
“Tapi sebelum itu, kamu harus push up 30 kali”
“Apa? Push up? 30 kali?”
“Ya, kenapa? Kamu ngebantah? Atau mau saya pe…”
“Iya pak, saya push up sekarang juga. Detik ini juga.”
“Bagus, ayo!”
“Iya pak”
“Hei Grace, mengapa kamu baru datang sekarang? Kamu terlambat!” bentaknya
“Iya Pak, maaf. Saya tadi ada urusan sebentar. Makannya saya terlambat.” Ucapku sembari menundukan kepala
“Maaf maaf!! Gak ada maaf maafan. Memangnya lebaran apa!”
“Saya janji Pak, saya gak akan ngulanginnya lagi.”
“Ya sudah kali ini saya maafkan. Tapi kalau kamu mengulanginya lagi. Saya tidak akan segan segan memecat kamu! Mengerti?!”
“Sangat mengerti Pak”
“Tapi sebelum itu, kamu harus push up 30 kali”
“Apa? Push up? 30 kali?”
“Ya, kenapa? Kamu ngebantah? Atau mau saya pe…”
“Iya pak, saya push up sekarang juga. Detik ini juga.”
“Bagus, ayo!”
“Iya pak”
Badanku terasa pegal semua. Astaga hukuman macam apa ini. Setelah selesai, cepat cepat aku menuju ruang kerjaku. “Pasti tugas numpuk” ucapku gelisah.
Brukkkk!!!
“Astaga kalau jalan liat liat dong! Liat nih aku sampai jatuh!” terdengar suara marah seseorang.
Dengan sigap, aku mengulurkan tanganku. “Maaf, saya tadi buru buru” ucapku bersalah
“Sandy….” panggilku sadar
“Grace, ya ampun. Hati hati dong kalo jalan. Liat nih, berkas aku berantakan kan jadinya.” Kesalnya
“Maaf, San. Tadi aku buru buru.” Ucapku bersalah dan membantu merapikan
“Ya udahlah gak apa apa.”
“Ya udah, aku duluan ya. Kerjaan aku banyak nih” pamitku dan segera pergi
Brukkkk!!!
“Astaga kalau jalan liat liat dong! Liat nih aku sampai jatuh!” terdengar suara marah seseorang.
Dengan sigap, aku mengulurkan tanganku. “Maaf, saya tadi buru buru” ucapku bersalah
“Sandy….” panggilku sadar
“Grace, ya ampun. Hati hati dong kalo jalan. Liat nih, berkas aku berantakan kan jadinya.” Kesalnya
“Maaf, San. Tadi aku buru buru.” Ucapku bersalah dan membantu merapikan
“Ya udahlah gak apa apa.”
“Ya udah, aku duluan ya. Kerjaan aku banyak nih” pamitku dan segera pergi
Sesampainya di ruang kerja…
“Astaga, ini tugas banyak banget!! Tugas apa aja ini?!” keluhku “Ehhh ehh Buk, Buk Dewi, tugas saya kok banyak banget. Ini juga, yang lain pada kemana sih? Kok sepi?” ucapku pada manager.
“Oh itu yang lain ada yang sakit ada juga yang izin. Jadi ini dibutuhin semua. Loh katanya kamu yang handle tugas mereka? karena ini dibutuhin sekarang.”
“Apa Buk? Mereka gak bilang sama aku. Aku juga baru tau dari Ibu barusan.” Jelasku
“Ya saya gak mau tau, pokoknya ini harus selesai sekarang. Atau kalau enggak nanti saya laporin ke Pak Direktur. Mau kamu dipecat?” ancamnya lalu melengos pergi.
“Loh kok gitu Buk? Ini gak adil!” ucapku, namun tak dipedulikan
“Astaga, ini tugas banyak banget!! Tugas apa aja ini?!” keluhku “Ehhh ehh Buk, Buk Dewi, tugas saya kok banyak banget. Ini juga, yang lain pada kemana sih? Kok sepi?” ucapku pada manager.
“Oh itu yang lain ada yang sakit ada juga yang izin. Jadi ini dibutuhin semua. Loh katanya kamu yang handle tugas mereka? karena ini dibutuhin sekarang.”
“Apa Buk? Mereka gak bilang sama aku. Aku juga baru tau dari Ibu barusan.” Jelasku
“Ya saya gak mau tau, pokoknya ini harus selesai sekarang. Atau kalau enggak nanti saya laporin ke Pak Direktur. Mau kamu dipecat?” ancamnya lalu melengos pergi.
“Loh kok gitu Buk? Ini gak adil!” ucapku, namun tak dipedulikan
Semua tugas ini benar benar membuatku pusing. Ketika aku hendak beranjak.
“Astaga! Maaf maaf nggak sengaja” ucap seseorang menumpahi pekerjaanku dengan kopi
“Oh may god, kamu gimana sih?! Liat kerjaan aku jadi kotor gini” ucapku hendak menangis
“Maaf, aku kan nggak sengaja. Kok sewot sih” ucapnya
“Sandy! Jadi kamu yang ngotorin kerjaan aku?! Aku nggak mau tau, yang jelas kamu harus beresin ini semua!”
“Ye kok aku yang salah, lagian tangan kamu tuh yang nyenggol.” Ucapnya tak mau kalah
“Kamu bener bener ya! Jahat! Banget!” bentakku
“Ehh ada apa ini? Ribut ribut?” pekik seseorang yang ternyata Pak Direktur
“Ini nih Pak, dia numpahin kopi ke kerjaan saya. Saya jadi harus buat ulang lagi kan!” marahku
“Ihhh enggak enggak Pak, orang dia yang nyenggol tangan saya, jadinya tumpah deh”
“Ya aku kan nggak sengaja.”
“Ya aku juga gak sengaja”
“Kamu kenapa jadi nyebelin banget sih? Biasanya juga kan gak kayak gini.”
“Suka suka aku dong!” ucapnya membuatku semakin kesal
“Sudah sudah, kalian ikut saya ke ruangan! Sekarang!”
“Astaga! Maaf maaf nggak sengaja” ucap seseorang menumpahi pekerjaanku dengan kopi
“Oh may god, kamu gimana sih?! Liat kerjaan aku jadi kotor gini” ucapku hendak menangis
“Maaf, aku kan nggak sengaja. Kok sewot sih” ucapnya
“Sandy! Jadi kamu yang ngotorin kerjaan aku?! Aku nggak mau tau, yang jelas kamu harus beresin ini semua!”
“Ye kok aku yang salah, lagian tangan kamu tuh yang nyenggol.” Ucapnya tak mau kalah
“Kamu bener bener ya! Jahat! Banget!” bentakku
“Ehh ada apa ini? Ribut ribut?” pekik seseorang yang ternyata Pak Direktur
“Ini nih Pak, dia numpahin kopi ke kerjaan saya. Saya jadi harus buat ulang lagi kan!” marahku
“Ihhh enggak enggak Pak, orang dia yang nyenggol tangan saya, jadinya tumpah deh”
“Ya aku kan nggak sengaja.”
“Ya aku juga gak sengaja”
“Kamu kenapa jadi nyebelin banget sih? Biasanya juga kan gak kayak gini.”
“Suka suka aku dong!” ucapnya membuatku semakin kesal
“Sudah sudah, kalian ikut saya ke ruangan! Sekarang!”
Dengan terpaksa dan penuh kecemasan aku pun memberanikan diri masuk ke ruangannya. Aku pun menjelaskan semuanya, namun aku dan Sandy bersikeras tak mau salah. Akhirnya Pak Direktur angkat bicara.
“Saya nyatakan yang salah adalah Grace. Jadi, Grace kamu saya pecat.” Ucapnya seperti hakim
“Apa Pak? Saya dipecat? Ini gak adil Pak. Masa dia enggak?”
“Saya gak mau tau. Sekarang kamu pergi dari kantor ini!” bentaknya
Aku sangat kesal dengan kejadian ini. Tak terasa air mata mengalir dari kelopak mataku. Aku bingung. Sekarang aku kehilangan pekerjaanku. Dan mengapa orang orang berubah padaku. Dan ternyata dugaanku salah, sepertinya bukan Sandy yang memberikanku surat.
“Saya nyatakan yang salah adalah Grace. Jadi, Grace kamu saya pecat.” Ucapnya seperti hakim
“Apa Pak? Saya dipecat? Ini gak adil Pak. Masa dia enggak?”
“Saya gak mau tau. Sekarang kamu pergi dari kantor ini!” bentaknya
Aku sangat kesal dengan kejadian ini. Tak terasa air mata mengalir dari kelopak mataku. Aku bingung. Sekarang aku kehilangan pekerjaanku. Dan mengapa orang orang berubah padaku. Dan ternyata dugaanku salah, sepertinya bukan Sandy yang memberikanku surat.
Aku berjalan menelusuri jalan di perkotaan. Kini waktu menunjukan pukul 16.11 sore. “Apa? Udah jam 4 lebih?!” ucapku teringat sesuatu. “Astaga, pengagum itu! Ya ampun mana masih pake baju kayak gini lagi! Aku harus cepet cepet pulang.” Gerusuhku Dengan langkah cepat ku cari taksi. Sesampainya di depan rumah. Terlihat sebucket bunga dan surat itu lagi. Segera ku raih.
Salam super duper manis,
Sore Graciella, aku hanya ingin mengingatkan untuk datang ke Taman sore ini.
Pengagum Rahasiamu
FSL
Sore Graciella, aku hanya ingin mengingatkan untuk datang ke Taman sore ini.
Pengagum Rahasiamu
FSL
“Ternyata masih ada kebahagiaan dari kesulitanku hari ini” batinku
Segera ku masuk ke rumah dan bersiap siap untuk ke taman sore ini. Kulihat bayanganku di cermin dan berkata “Ya, aku sudah siap”. Kini, aku mengenakan gaun berwarna putih. Melambangkan kesucian dan ketulusan seperti bunga yang diberikannya. Sesampainya di tempat yang dijanjikan. Nampaknya, tak ada siapa siapa disini. Apa hanya mengerjaiku. Sudah setengah jam aku menunggu, dan sekarang sudah jam setengah enam sore namun orang itu tak datang juga. Membuatku penasaran dan kecewa. Hari semakin gelap.
Tiba tiba saja pandanganku gelap. Ada yang menutup mataku.
“Hey, siapa ini?” ucapku sembari mencoba membuka tangannya dari mataku
“Ihhh lepasin” kesalku
“Aku nggak akan ngelepasin kamu” ucapnya dengan suara seperti dibuat buat
“Ihhh siapa sih. Iseng banget!” kesalku
Tiba tiba terlepaslah kedua tangannya dari mataku.
“Siapa sih? Ngapa…” ucapku terpotong kulihat suasana di belakangku dari tadi. Terlihat lilin lilin membentuk sebuah hati dengan taburan bunga mawa putih di dalamnya. Sangat indah.
“Indah sekali” ucapku kagum
“Ekhemmmm…” terdengar suara seseorang di belakangku
“Hai?” ucapnya. Betapa terkejutnya aku ketika melihat orang itu adalah Danis
“Danis? Jadi kamu ngelakuin semua ini?” tanyaku tak percaya
“Iyap” ucapnya sembari tersenyum.
“Aku nggak nyangka. Tapi nggak ada hurup “D” nya di surat surat itu.”
“Apa kamu nggak ingat?”
“Apa”
“Aku Danis teman masa kecilmu dulu. Dulu aku bilang jika aku bertemu kamu lagi berarti kamu adalah jodohku. Ketika kamu pergi ke Jakarta bersama orangtua kamu. Dan ternyata kita satu kantor. Namun sepertinya kamu lupa siapa aku, tapi aku menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya sama kamu. Dan lambang yang di surat itu adalah singkatan panggilan kamu ke aku dulu. Kamu ingat?”
“Fosil? Ya, aku ingat.” Ucapku dengan mata berkaca kaca
“Ya, awalnya aku kesal kamu bilang fosil dulu. Tapi aku mulai menyadari bahwa panggilan itu adalah panggilan istimewa untukku.”
“Aku nggak percaya” ucapku dengan air mata bahagia
“Kamu nggak harus percaya, kamu hanya harus menyadari dan merasakan bahwa semua ini benar benar terjadi. Bertepatan di hari Valentine, will you to be my girl friend and marry with me?” ucapnya membuatku semakin bahagia. Aku menjawabnya dengan senyum dan anggukan. Aku tau dia pasti mengerti.
“Cieee!!! Ada yang baru jadian nih!! Yuhuuu!!! PJ nya oyyy!!!” terdengar suara orang orang yang sangat aku kenali dari balik pohon.
“Kalian….” panggilku “Jadi kalian juga ikut ngerencanain ini?” tanyaku
“Iya, jadi aku yang nyuruh mereka buat ngerjain kamu. Dan sebenarnya kamu nggak dipecat hehehe” ucap Danis
“Jadi tadi itu akting?”
“Ya, heheheh” kehkeh nya
“Oh my god, ini menyebalkan tapi aku sangat bahagia.” Ucapku lirih
Tiba tiba saja aku terjatuh, lalu…
“Ehhh ehh ehh Grace kamu kenapa?!” pekik Danis diiringi suara khawatir yang lainnya.
Terdengar suara suara mereka yang menyuruhku bangun. Terdengar juga ada orang yang sangat khawatir lalu menangis. Aku tak kuat menahan tawa. Akhirnya tawaku pecah.
“Heheheehehehe” kehkehku lalu bangun.
“Grace…” panggil mereka bingung “Jadi kamu ngerjain kita?!” ucap mereka kesal
“Gantian dong hehhehehe” kehkehku
Mereka kesal, namun aku tertawa. Tiba tiba saja Danis memelukku dengan sangat erat. Dia berbisik “Jangan akting tinggalin aku lagi Grace. Aku sangat takut kehilangan kamu” ucapnya
“Iya sayang” ucapku lalu membalas pelukan hangatnya.
Segera ku masuk ke rumah dan bersiap siap untuk ke taman sore ini. Kulihat bayanganku di cermin dan berkata “Ya, aku sudah siap”. Kini, aku mengenakan gaun berwarna putih. Melambangkan kesucian dan ketulusan seperti bunga yang diberikannya. Sesampainya di tempat yang dijanjikan. Nampaknya, tak ada siapa siapa disini. Apa hanya mengerjaiku. Sudah setengah jam aku menunggu, dan sekarang sudah jam setengah enam sore namun orang itu tak datang juga. Membuatku penasaran dan kecewa. Hari semakin gelap.
Tiba tiba saja pandanganku gelap. Ada yang menutup mataku.
“Hey, siapa ini?” ucapku sembari mencoba membuka tangannya dari mataku
“Ihhh lepasin” kesalku
“Aku nggak akan ngelepasin kamu” ucapnya dengan suara seperti dibuat buat
“Ihhh siapa sih. Iseng banget!” kesalku
Tiba tiba terlepaslah kedua tangannya dari mataku.
“Siapa sih? Ngapa…” ucapku terpotong kulihat suasana di belakangku dari tadi. Terlihat lilin lilin membentuk sebuah hati dengan taburan bunga mawa putih di dalamnya. Sangat indah.
“Indah sekali” ucapku kagum
“Ekhemmmm…” terdengar suara seseorang di belakangku
“Hai?” ucapnya. Betapa terkejutnya aku ketika melihat orang itu adalah Danis
“Danis? Jadi kamu ngelakuin semua ini?” tanyaku tak percaya
“Iyap” ucapnya sembari tersenyum.
“Aku nggak nyangka. Tapi nggak ada hurup “D” nya di surat surat itu.”
“Apa kamu nggak ingat?”
“Apa”
“Aku Danis teman masa kecilmu dulu. Dulu aku bilang jika aku bertemu kamu lagi berarti kamu adalah jodohku. Ketika kamu pergi ke Jakarta bersama orangtua kamu. Dan ternyata kita satu kantor. Namun sepertinya kamu lupa siapa aku, tapi aku menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya sama kamu. Dan lambang yang di surat itu adalah singkatan panggilan kamu ke aku dulu. Kamu ingat?”
“Fosil? Ya, aku ingat.” Ucapku dengan mata berkaca kaca
“Ya, awalnya aku kesal kamu bilang fosil dulu. Tapi aku mulai menyadari bahwa panggilan itu adalah panggilan istimewa untukku.”
“Aku nggak percaya” ucapku dengan air mata bahagia
“Kamu nggak harus percaya, kamu hanya harus menyadari dan merasakan bahwa semua ini benar benar terjadi. Bertepatan di hari Valentine, will you to be my girl friend and marry with me?” ucapnya membuatku semakin bahagia. Aku menjawabnya dengan senyum dan anggukan. Aku tau dia pasti mengerti.
“Cieee!!! Ada yang baru jadian nih!! Yuhuuu!!! PJ nya oyyy!!!” terdengar suara orang orang yang sangat aku kenali dari balik pohon.
“Kalian….” panggilku “Jadi kalian juga ikut ngerencanain ini?” tanyaku
“Iya, jadi aku yang nyuruh mereka buat ngerjain kamu. Dan sebenarnya kamu nggak dipecat hehehe” ucap Danis
“Jadi tadi itu akting?”
“Ya, heheheh” kehkeh nya
“Oh my god, ini menyebalkan tapi aku sangat bahagia.” Ucapku lirih
Tiba tiba saja aku terjatuh, lalu…
“Ehhh ehh ehh Grace kamu kenapa?!” pekik Danis diiringi suara khawatir yang lainnya.
Terdengar suara suara mereka yang menyuruhku bangun. Terdengar juga ada orang yang sangat khawatir lalu menangis. Aku tak kuat menahan tawa. Akhirnya tawaku pecah.
“Heheheehehehe” kehkehku lalu bangun.
“Grace…” panggil mereka bingung “Jadi kamu ngerjain kita?!” ucap mereka kesal
“Gantian dong hehhehehe” kehkehku
Mereka kesal, namun aku tertawa. Tiba tiba saja Danis memelukku dengan sangat erat. Dia berbisik “Jangan akting tinggalin aku lagi Grace. Aku sangat takut kehilangan kamu” ucapnya
“Iya sayang” ucapku lalu membalas pelukan hangatnya.
Masa lalu yang sungguh indah, namun Danis sekarang sudah tak di sampingku. Dia meninggalkanku untuk selamanya ketika kami sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Selamat tinggal kekasihku, suamiku, ayah dari anak anakku, orang yang aku cintai. Aku sangat menyayangimu, mencintaimu adalah hal terindah dalam hidupku.
“Kini anak anak kita sudah menikah dan memiliki anak, dan sampai saat ini aku masih setia padamu hingga ajal menjemputku.” Tulisku dalam diary
Itulah coretan kisah cinta yang aku buat di masa tua. Tiba tiba saja badanku terasa lemas. Badanku ambruk ke lantai.
“Nenek!!!” pekik suara cempreng yang merupakan cucuku
Ya, mungkin itu adalah suara terakhir yang aku dengar di akhir hidupku. Dan kenanganku bersamamu kuabadikan di buku diary dan surat yang kau berikan. Surat itu adalah surat terindah yang aku dapatkan sepanjang hidupku. Terima kasih
Itulah coretan kisah cinta yang aku buat di masa tua. Tiba tiba saja badanku terasa lemas. Badanku ambruk ke lantai.
“Nenek!!!” pekik suara cempreng yang merupakan cucuku
Ya, mungkin itu adalah suara terakhir yang aku dengar di akhir hidupku. Dan kenanganku bersamamu kuabadikan di buku diary dan surat yang kau berikan. Surat itu adalah surat terindah yang aku dapatkan sepanjang hidupku. Terima kasih

0 comments: