Revealed

5:50:00 AM Michael Adigreace Marbun 0 Comments

Jam menunjukan pukul 15.15, bel pulang berbunyi, seluruh murid membereskan alat tulis dan bergegas untuk pulang. Beberapa menit kemudian seluruh siswa pulang, sekolah menjadi sepi. Berbeda denganku, aku pergi tidak untuk pulang namun aku pergi ke gedung sekolah lama yang sudah tua bersama 3 orang temanku. Namaku Nicole Jocelyn, dan 3 orang temanku bernama Aisley, April, Caroline.
Di gedung sekolah lama aku mencari barang temanku yang tertinggal di dalam sini berupa kalung, kami tidak hanya mencari kalung itu, kami juga melakukan penelitian di dalam gedung sekolah tua ini. Entah mengapa kami pindah gedung sekolah, namun kerap kali aku mendengar cerita orang tentang gedung ini ternyata pada malam hari gedung sekolah ini pernah terjadi pembunuhan sadis dan korbanya adalah penjaga sekolah ini, tidak diketahui apa motif pembunuhan ini. Sejak saat itulah sering terdengar cerita mistis. Dan akhirnya pengelola sekolah menyuruh kepala sekolahku untuk pindah di gedung. Mmm… memang sih ketika memasuki gedung sekolah lama angin selalu berhembus kencang dan kerap kali terdengar suara langkah kaki serta pintu terbuaka dengan sendirinya. Tetapi hal ini tidak membuatku dan teman-temanku merasa takut.
Setelah lama mencari kalung itu dan kami menyerah tiba-tiba terdengar suara gemerincing seperti kalung jatuh, benar saja kalung temanku jatuh tepat di bawah jam tua yang besar. Temanku langsung mengambilnya, tiba-tiba jam tua itu berdetak dan jarum jamnya menunjukan waktu 15.58 aku dan teman-temanku terkejut melihat jam tua itu berfungsi karena sudah lama jam ini tidak berfungsi, seketika angin masuk dengan kencang dan pintu utama tertutup pandanganku menjadi kabur akibat hembusan angin “cole! kau mendengarku?” Tanya April “ya!!! Sebaiknya kita menuju pintu utama dan langsung membukanya” jawabku “Tunggu!! Ada yang aneh disini” ujar Carrie sambil menunjukan buku tua yang ada di dalam jam tua itu “memangnya ada apa?” Tanya Aisley “lihat ini” jawab Carrie, Aku pun langsung berjalan menuju arah Carrie tidak kusangka itu adalah buku tua yang ada di dalam mimpiku.
“Carrie, coba kulihat buku itu” ujarku
“Ini” Carrie
“Mmm.. aku ingin menceritakan pada kalian” ujarku
“Coba ceritakan pada kami” Aisley
“Baiklah tapi tidak di tempat ini, sebaiknya kita ke luar dari sini” jawabku
“Ummm… ayo!”
Aku membawa buku itu seketika tubuhku lemas, namun kumantapkan langkahku untuk ke luar dari gedung ini.
Tidak lama kemudian suasana menjadi berbeda keheningan dan hembusan angin kencang meghilang.
“Sebaiknya kita duduk di bangku taman sekolah saja” ujar April
“Baiklah, ayo kita kesana”
Tidak beberapa lama aku duduk bersama temanku di taman sekolah dan aku langsung menceritakan yang aku alami di mimpiku.
“Cole cepat ceritakan pada kami” ujar Carrie
“Baiklah. Ketika aku sedang tertidur, tiba-tiba mimpiku berubah menjadi gelap dan buku ini ada di mimpiku. Buku ini terbuka dari hembusan angin yang membuka halaman 133. Di dalam mimpiku halaman ini membahas tentang kematian sesorang tanpa sebab”. Jawabku
“Ha! Benarkah begitu Cole”
“Ya di mimpiku seperti itu”
“Coba kita buka halaman itu” ujar Aisley
Ternyata benar halaman ini menguak tentang kematian seseorang tanpa sebab, di halaman ini terdapat nama seseorang nama itu adalah Alveisyn G Lorence.
“siapakah orang ini apa dia pelakunya?, sebaiknya kita cari tau tentang orang ini” Carrie
“Sebentar, lihatlah tulisan kuno ini” Aisley
“Sepertinya aku bisa membaca tulisan kuno ini” jawabku
“Benarkah, darimana kau belajar tentang tulisan kuno macam ini” tanya April
“Kakekku yang mengajariku membaca tulisan semacam ini, kakekku diajarkan oleh ayahnya”. Jawabku
“Kalau begitu cepatlah terjemahkan tulisan ini” ujar Carrie
“Pem…bunuhan… tidak… akan ber… henti… sampai… anak… itu …. DEATH!, 15.58 am. 11-10-1979”
“Damn!!, sebenarnya ada apa dengan hidup Lorence dan anak yang dimaksud” ujar April
“Entahlah” jawabku
Seketika hembusan angin datang namun tidah kencang, tiba-tiba bahuku dipegang oleh seseorang aku kaget dan langsung menoleh ke belakang
“Huh.. paman Rue” ujarku sambil terkejut
“sebaiknya kalian pulang hari sudah mulai sore” ujar paman Rue
“Baiklah paman” kami bersiapa-siap untuk pulang.
“Sampai jumpa paman!”
Paman tersenyum… sambil melambaikan tangan
Paman Rue adalah pria parubaya penjaga sekolah baruku beliau sudah lama menjaga sekolah, keluarganya tinggal di dekat sekolah, namun beliau hanya tingga bersama istrinya.
Malam hari. Terdengar suara handphone berbunyi ketika aku sedang bermain game. suara ini sangat menggangguku, ketika aku sedang asik bermain game. Ternyata ini telepon dari Aisley, kutekan tombol jawab dan aku langsung bicara “ada apa kau meneleponku malam-malam?”
“Cole… help us” jawab Aisley
Seketika tubuhku kaku dan aku sangat terlejut “a..apa yang terjadi denganmu dan keluargamu?” Tanyaku
“Seseorang ingin membunuhku dan orangtuaku” jawab Aisley sambil menangis kesakitan
“Baiklah kau tenang sebentar aku akan pergi ke rumahmu bersama orangtuaku dan menelepon polisi” ujarku
“Cole cepatlah kau datang aku sangat meminta bantuanmu… cole hati-hat…” jawab Aisley
“Tuttuttut… panggilan terputus, halo! Halo! AISLEY!”. Tanyaku sambil cemas. Aku langsung mengambil jaket dan turun ke bawah menyuruh ayah dan ibu untuk menemaniku ke rumah Aisley dan kutelepon Polisi untuk segera menuju rumah Aisley.
Setelah sampai di rumah Aisley aku langsung masuk rumah Aisley bersama ayah dan polisi, ibuku menunggu di luar. Tidak kusangka aku sangat terkejut menemukan mayat Aisley bersama orangtuanya sedang tergantung di langit-langit atap rumah. Disitu aku sangat sedih, menangis, dan tubuhku menjadi lemas. Aku meringis, karena aku kalah cepat dengan pembunuh itu. Tidak lama kemudian ibuku menelepon ambulan, mayat Aisley dan orangtuanya segera dibawa ke rumah sakit untuk diurus.
Setelah beberapa menit kemudian polisi menemukan surat bertuliskan “sudah dekat, anak itu akan DEATH, 3”
Aku membaca surat itu aku bingung kenapa pembunuh membunuh temanku tanpa sebab, di dalam diriku bertanya tanya apa motif pembunuhan ini.
Esok harinya Aisley dan keluarganya dimakamkan, setelah selesai dimakamkan orang-orang pergi meninggalkan pemakaman. Di pemakaman tinggal Aku, April, dan Carrie. Ketika kami sedang berdoa terlihat seorang pria dari kejauhan memakai pakaian serba hitam dengan sarung tangan hitam sedang berdiri melihat ke arah kami.
“Heyy… apa kalian melihat pria serba hitan di dekat pohon itu” tanyaku
“Aku tidak melihatnya” jawab April
“Dimana sih, apakah yang di dekat pohon itu?” Tanya Carrie
“Iya itu, oh tidak dia semakin mendekat, sebaiknya kita cepat pergi dari sini” ujar ku
“oh, pria yang berpakaian serba hitam itu?” Tanya April
“Iyaa…” jawabku
“DAMN! Dia semakin mendekat, ohh benda apa yang dia bawa?” Tanya Carrie
“Itu terlihat seperti kalung” jawabku
“Benar itu kalung” ujar April
“Sebaiknya kita pergi” ujarku
Aku langsung menggandeng tangan temanku dan mengajak mereka pergi ke mobil dan segera pergi meniggalkan tempat ini.
Tidak lama kemudian pria serba hitam itu meletakan kalung yang ia bawa serta dia mencoret batu nisan Aisley.
Kami tidak mengerti apa yang sedang dilakukanya.
Aku pun langsung menyalakan mobil dan pergi ke rumah, April dan Carrie aku ajak ke rumahku. Sesampainya di rumah aku langsung naik ke kamar dan mengambil buku itu untuk mencari tau.
“Carrie, April coba kalian lihat ini”. Ujarku
Carrie membaca “pada saat korban mati korban akan didatangi pria serba hitam yang membawa kalung dan pisau yang digunakan untuk mencoret batu nisan pada saat di pemakaman”.
Sontak hal ini membuat kami terkejut dan akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pemakaman Aisley apa benar hal ini terjadi.
Saat di perjalanan menuju pemakaman kami melihat pria serba hitam sedang duduk di depan toko roti sembari menulis di buku yang ia bawa.
Kami tidak mempedulikanya namun kami sangat penasaran apa yang dia tulis.
Tidak lama kemudian kami sampai di pemakaman Aisley. Benar-benar sulit dibayangkan buku tua itu benar, di makam Aisley terdapat kalung hitam serta bandulnya berbentuk tabung kecil berisi darah dan batu nisan yang dicoret. Kami segera membawa kalung itu dan bergegas menuju rumahku.
Saat mau menuju mobil tidak kusangka pria serba hitam muncul di hadapan kami bertiga. Sontak kami terkejut.
“Apa yang kau inginkan dari temanku?” Tanyaku
“…” pria itu tidak menjawab pertantaanku. Namun dia langsung memegang tangan Carrie dengan kencang sehingga tubuh Carrie lemas akhirnya Carrie pingsan. Aku tidak terima, “April ambil kalung ini dan bawalah pergi!”. Emosiku sudah meluap aku langsung menonjok muka pria itu dan menendang kakinya. Ada hal aneh kenapa pria ini tidak kesakikan? Aku mencoba menyerang kembali dengan pukulan serta tendangan ke tubuh pria itu. Saat itu April sedang lari menuju mobil untuk mengamankan kalung itu dan terlihat dari kejauhan ada pria berpakaian serba hitam sedang menuju arah April membawa pisau. Aku meneriakan April untuk lari dari situ namun April tidak mendengarku. Disitu aku terlihat bingung aku ingin menyelamatkan yang mana, aku melihat pria yang mengekap Carrie tidak membawa benda tajam atau alat lainya sedangkan pria yang menuju arah April membawa pisau. Seketika aku melihat Carrie terbangun, aku menarik tangan Carrie dan langsung meminta Carrie untuk berada di belalangku. Tidak lama kemudian aku memukul kepala pria yang aku lawan dengan batu dia akhirnya pingsan disini aku sangat terkejut karena ini adalah robot menyerupai manusia entah siapa yang membuatnya namun terlihat di sepatu robot ini tertulis nama Alveisyn G Lorence, aku pun sangat terkejut namun seketika Carrie lari menuju arah April dan memukul punggung pria serba hitam dengan kayu aku pun langsung mengejar disana kami melawan pria itu 3 lawan 1, pria tersebut kesakitan namun dia langsung bangkit dan dia menyiapkan pisaunya untuk menusuk Carrie, melihat itu aku langsung menghalangi pria tersebut menusuk Carrie, dengan memukul kepala pria dengan kayu, April di sampingku membantuku melawan pria tersebut.
Seketika pria tersebut tidak sadar kami langsung bergegas pergi namun kaki Carrie dipegang pria serba hitam itu Carrie pun ditusuk dan akhirnya Carrie meniggal. Tinggal kami berdua April segera mencari pertolongan dengan menelepon teman laki-lakinya yang rumahnya tidak jauh dari sini namun hp April mati kami sangat bingung. Pria tersebut tersenyum sinis dan dia langsung menusuk perutku, tubuhku menjadi lemas, pandanganku menjadi kabur, dan kepalaku sangat pusing sedikit demi sedikit darah mulai keluar, namun aku masih bisa bangun dan menyuruh April pergi, April tidak mau pergi ia berkata padaku “kau sahabatku, kau selalu menolongku, kali ini aku harus menolongmu”.
“Kau memang sahabatku, kau harus pergi dari sini, aku tidak mau melihat sahabatku mati di tangan pria ini Fu*k U” jawabku “tidak berpikir panjang april menusuk pria tersebut dengan pensil yang terjatuh dari kantong pria tersebut dan memukul kepalanya dengan batu, seketika pria tersebut terkapar dan akhirnya mati. Tidak lama kemudian aku terjatuh April langsung membawaku ke rumah sakit. “Kau harus hidup Cole, kau sahabat terbaiku, aku sangat berterimakasih padamu, jangan tinggalkan aku” ujar April sambil menangis dan menunggu Cole sadar, orangtua Cole datang dengan wajah cemas dan sedih, dokter ke luar dari ruang Cole “maaf… dia sudah tiada” “Cole…”.
Di pemakaman terlihat pria berbaju hitam dengan membawa buku. April menghampiri pria tersebut dan April pun dibunuh dan tidak diketahui dengan apa April dibunuh.
Hembusan angin datang dengan kencang halaman buku satu peesatu terbuka masing-masing halaman memiliki cerita yang berbeda.
Pembunuhan Cole dan teman-temanya terdapat di halaman terakhir. Di buku ini disebutkan siapa pembunuhnya. Nama Alveisyn G Lorence terdapat di buku ini dia adalah pembunuh dari Aisley dan April. Namun Nicole tidak dibunuh dengannya melainkan Nicole dibunuh oleh kakek Nicole yang sudah lama menghilang dari rumah akibat menggila, Caroline dibunuh oleh kakek Nicole karena ayah Caroline yang menyebabkan kakek Nicole menjadi gila. Tidak ada yang tau hal ini terjadi hanya buku yang diberikan kepada April yang menjadi sumber utama masalah ini. Dituliskan Archer Grutlys Jocelyn sebagai dalang dari semua pembunuhan ini semua, dituliskan Archer sudah membunuh 5 keluarga masing-masing memiliki anggota keluarga 4-8 orang. Salah satu di antaranya Cucu dari anaknya yaitu Nicole Jocelyn. Dan 1 korban cucu dari sahabatnya Caroline Danzell.
Setelah semua korban terbunuh sang pembunuh akhirnya membunuh dirinya sendiri dengan terjun dari jurang. Sebelum bunuh diri pembunuh membunuh ayah dan ibu Nicole, ayah dan ibu Caroline. Buku tersebut akhirnya menghilang hanya menyisakan 1 kertas kecil bertuliskan “immortal”

You Might Also Like

0 comments: